Tuesday, September 04, 2007

Pembedahan Dr Mahathir Bermula 9.30 Pagi

KUALA LUMPUR, 4 Sept (Bernama) -- Bekas perdana menteri Tun Dr Mahathir Mohamad menjalani pembedahan pintasan jantung di Institut Jantung Negara di sini pada 9.30 pagi ini.

Pembedahan yang dilakukan oleh satu pasukan diketuai Tan Sri Dr Yahya Awang dijangka mengambil masa antara empat dan enam jam, kata pegawai khas beliau, Sufi Yusoff, kepada Bernama.

"Dr Mahathir dibawa masuk ke bilik pembedahan pada 9 pagi," katanya.

Ini merupakan kali kedua, Dr Mahathir, 81, menjalani pembedahan serupa. Kali pertama ialah pada 24 Jan 1989 di Hospital Kuala Lumpur ekoran satu serangan jantung.

Anak Dr Mahathir, Datin Paduka Marina, dalam blognya, "RantingsbyMM", berkata pasukan pembedahan itu dibantu oleh Dr Hartzell Schaff, ketua pakar bedah jantung di Mayo Clinic di Amerika Syarikat.

"Dr Schaff telah menjalankan beberapa pembedahan dengan Tan Sri Yahya di IJN sebelum ini," kata Marina.

-- LAGI

7 comments:

haji said...

Assalamualaikum.

Marilah kita sama-sama berdoa agar pembedahan by pass Tun Dr Mahathir berjalan dengan sempurna, dan Tun segera sembuh dan terus berkhidmat untuk bangsa, negara dan Islam.Amin Ya Rabbul Alamin.

pemerhati said...

A'kum Dato' Perkara ini adalah tujuan seperti ingin merosakan imej PDRM. Toyol tahun cerita sebenar. Artikel ini bagi tujuan kajian saja bukan untuk di siarkan.

Rakan anggota UTK simpati nasib Sirul Azhar

SHAH ALAM [Utusan] 4 Sept. - Seorang anggota Unit Tindakan Khas (UTK) memberitahu Mahkamah Tinggi di sini hari ini bahawa dia bersimpati dengan nasib rakan karibnya, Koperal Sirul Azhar Umar yang kini berhadapan dengan tuduhan membunuh wanita Mongolia, Altantuya Shaariibuu.

Sarjan Rosli Ibrahim, 36, dari Ibu Pejabat Polis Bukit Aman yang melahirkan rasa simpati itu berkata, dia memang mempunyai hubungan rapat dengan tertuduh tersebut dan saling bantu-membantu setakat yang mampu.

Dalam keterangannya, dia juga memberitahu hal-hal peribadi Sirul Azhar dengan menyatakan bahawa rakannya itu telah bercerai dengan isterinya dan mempunyai sepasang cahaya mata aitu yang sulung, perempuan dan bongsu lelaki tetapi dia tidak tahu umur mereka.

Menurutnya, anak sulung kini dijaga oleh keluarga angkat Sirul Azhar di Muadzam, Pahang manakala anak keduanya dipelihara oleh ibu Sirul Azhar di Changkat Jering.

Rosli berkata demikian sebagai saksi kedua pada bicara dalam perbicaraan bagi menentukan sama ada keterangan Asisten Supritendan Zulkarnain Samsudin berhubung kenyataan dan perlakuan Sirul Azhar mengenai penemuan barang-barang kemas milik Altantuya boleh dipadamkan daripada nota prosiding.

Katanya, semasa disoal balas oleh Timbalan Pendakwa Raya, Tun Abdul Majid Tun Hamzah (foto), semasa berada di rumah Sirul Azhar pada 7 November tahun lalu, dia tidak dibenarkan oleh Cif Inspektor Koh Feh Cheow untuk mengusik almari di dalam bilik tidur Sirul Azhar.

Pintu almari itu, katanya, ketika itu tertutup tetapi tidak rapat.

Dalam keterangannya sebelum itu semasa pemeriksaan utama oleh peguam Ahmad Zaidi Zainal, saksi itu memberitahu, Asisten Komisioner Mastor Mohd. Ariff telah menyerahkan kepadanya serangkai kunci rumah Sirul Azhar pada malam 6 November tahun lalu di pejabatnya.

Katanya, keesokan harinya, Mastor telah menelefonnya mengarahkan dia menyerahkan kunci tersebut kepada pegawai penyiasat kes bunuh itu di rumah Sirul Azhar.

Selain itu katanya, pegawai UTK itu telah memesan kepadanya untuk memaklumkan kepada pegawai penyiasat sekiranya ada barang-barang kerajaan atau barang polis di rumah Sirul Azhar supaya diberi kebenaran untuk dibawa balik ke Bukit Aman.

Prosiding bicara dalam perbicaraan bersambung pada sesi petang ini

pemerhati said...

A'kum Dato.. Ada negara jiran tidak senang berita ini.. untuk kajian sahaja.

RI dan Malaysia akan Bangun Jembatan Penghubung Sepanjang 38 Km
Berita Utama Add commentsJakarta (SIB)
Indonesia dan Malaysia berencana membuat jembatan penghubung antar kedua negara sepanjang 38 km. Jembatan tersebut akan menghubungkan Pulau Rupat, Riau, ke Port Dickson, Malaysia.
Hal ini disampaikan Gubernur Provinsi Riau Rusli Zainal saat konferensi pers mengenai Riau Investment Summit 2007, Di Restoran The Essence, Jalan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Senin (3/9).
Menurutnya pihak Malaysia sudah menawarkan rencana pembangunan ini kepada pengusaha Malaysia. Sedangkan, di sisi Indonesia Wapres Jusuf Kalla sudah memberikan lampu hijau untuk proyek ini.
“Ini telah masuk dalam rencana makro namun kita belum menargetkan kapan mulai pembangunan, karena ini perlu dibicarakan lagi pemerintah pusat karena ini menyangkut hubungan antar negara. Itu sudah dapat lampu hijau dari Wapres bahkan beliau berjanji bagaimana pembangunan ini bisa melibatkan investor swasta nasional,” ujarnya.
Rusli juga mengatakan tidak tertutup kemungkinan proyek ini akan ditangani perusahaan konsorsium yang berisi pengusaha Indonesia dan Malaysia.
Rusli menambahkan pembangunan jembatan ini belum termasuk dalam Riau Investment Summit 2007. (detikcom/i)

pemerhati said...

Sabtu, 01 Sept 2007,Jawa Pos
Dubes Malaysia Juga Harus Minta Maaf


JAKARTA - Permintaan maaf Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Ahmad Badawi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) via telepon dinilai kalangan DPR belum cukup. Para politikus di Senayan meminta agar permintaan maaf tersebut juga disampaikan secara resmi oleh Duta Besar (dubes) Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Mohammad Zaid.

Menurut anggota Komisi I Happy Bone Zulkarnaen, permintaan maaf dari PM Badawi via telepon kepada SBY Kamis (30/8) hanyalah pernyataan sesama kepala negara. "Kami menghargai permintaan maaf PM Malaysia, tapi formalnya harus tetap Dubes," tegasnya setelah diskusi Siksa Malaysia Harga Diri Bangsa di gedung DPD, Jakarta, kemarin (31/8).

Menurut anggota DPR dari Partai Golkar itu, representasi negara dalam hubungan internasional adalah duta besar. "Jadi, dalam konteks hubungan diplomatik, Dubes yang harus minta maaf, itu baru apologize," tandasnya.

Happy menilai deeply regret (penyesalan mendalam) yang disampaikan Dubes Zaenal Abidin bukanlah sebuah permintaan maaf. "Itu belum cukup karena tidak memiliki konsekuensi hukum," tambahnya.

Dia menyatakan, permintaan agar Dubes Malaysia meminta maaf bukanlah upaya mencari-cari masalah. Hal tersebut merupakan bentuk saling menghargai kedaulatan masing-masing negara. "Saya pikir negara ini sudah terlalu sering dilecehkan, terutama soal sejumlah kasus kekerasan yang menimpa TKI kita," tegasnya.

Dalam waktu dekat, lanjut Happy, komisi I akan memanggil Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda untuk mengomunikasikan keinginan DPR kepada Dubes Malaysia. "Kira-kira awal pekan depan kami minta Menlu mendesak Dubes Malaysia untuk minta maaf," ujarnya.

Rasa tidak puas terhadap permintaan maaf PM Badawi juga disampaikan Policy Analyze Migrant Care Wahyu Susilo. Menurut dia, persoalannya tidak semudah hanya dengan meminta maaf melalui telepon. Sebab, persoalannya lebih menyeluruh, termasuk kekerasan yang dialami TKI di Malaysia. "Apalagi, jelas-jelas pelakunya adalah aparat Malaysia," protesnya.

Dia menegaskan, secara prosedural, permintaan maaf seharusnya disampaikan secara resmi di dalam istana perdana menteri. "Selain itu, permintaan maaf harus disiarkan melalui TV, itu baru cukup," cetusnya. Sebab, permintaan maaf tersebut harus disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Wahyu juga menuntut Malaysia agar menindaklanjuti proses hukum sejumlah kasus TKI yang telah terjadi selama ini. Misalnya, proses hukum atas kasus kekerasan terhadap Nirmala Bonat, Ceriyati, dan lainnya. "Sebab, semuanya masih mandek dan tidak ada perkembangan. Pelakunya pun masih bebas," ujarnya. (dyn/pri)

Ahmad Fared said...

Assalamualaikum.

Agar pembedahan Tun Dr Mahathir akan berjalan lancar. Kepada ahli keluarga Tun dan juga sahabat handai yang masih setia dan percaya akan kecekapan Tun sebagai Perdana Menteri sebelum ini, sampaikan amanat ini bahawa apa yang telah dilakukan oleh Tun Dr Mahathir kepada negara tidak lebih telah meletakkan negara dimata dunia.
Semoga Tun terus sihat untuk memberikan buah fikiran berguna agar Malaysia setelah 50 tahun merdeka tidak akan rebah dalam masa 5 tahun mendatang.

pemerhati said...

Artikel Indo Pos diterima DYM INga sedang kajian bukan utuk siaran.



Selasa, 04 Sept 2007,
Parlemen Malaysia Tolak Bahas Kasus Donald


KUALA LUMPUR - Parlemen Malaysia menolak pembahasan kasus penganiayaan Donald Pieter Luther Kolopita. Mereka menganggap pengeroyokan yang dilakukan empat anggota polisi itu bukan kasus prioritas.

Sebelumnya, seorang anggota parlemen dari PAS (Partai Islam Se-Malaysia yang menjadi oposisi) Fatah bin Haji Harun mengusulkan kasus penganiayaan tersebut dibahas dalam rapat. Dia memandang kasus itu sangat serius karena bisa berdampak terhadap hubungan baik Malaysia- Indonesia.

Usul itu dikirimkan dalam sepucuk surat kepada Ketua Parlemen Ramli Ngah Thalib. Kemarin usul Fatah itu dipertimbangan oleh pimpinan dan anggota parlemen. Apakah kasus itu memang perlu pembahasan dalam sebuah rapat.

Hasilnya, pimpinan dan anggota parlemen sepakat untuk tidak membahas usul Fatah. Sebab, kasus itu sudah ditangani secara profesional oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM). "Polisi sudah mengambil tindakan tepat kepada keempat anggotanya dengan menskors dan menahan setengah gajinya. Saat ini mereka sedang disidik dan hasilnya juga sudah diserahkan kejaksaan Malaysia untuk dipelajari," kata Ramli.

Apalagi, pemerintah sudah mengambil langkah diplomatik untuk menyelesaikan kasus itu. Wakil pemerintah Malaysia sudah bertemu pemerintah Indonesia untuk membicarakan aksi pemukulan tersebut.

Ramli mengatakan, kasus Donald sebenarnya dikategorikan sebagai permasalahan yang menyangkut kepentingan umum. Namun, faktor ini tak cukup kuat untuk dijadikan alasan untuk mengangkat sebuah permasalahan dalam sidang parlemen.

Mendapat jawaban Ramli, Fatah masih belum puas. Karena dia masih menganggap kasus Donald memenuhi kriteria untuk dibahas dalam sebuah rapat parlemen. Yaitu menyangkut kepentingan umum dan bisa mengganggu hubungan diplomatik. "Saya kira, kasus ini bisa menjadi kriteria," ujarnya.

Fatah pun akhirnya mengungkapkan peninjauan jabatan menteri luar negeri. Dia minta PM Abdullah Badawi meninjau karena Menlu dianggap tidak bisa menghadirkan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dalam peringatan HUT Ke-50 Kemerdekaan Malaysia.

Dalam kasus Donald, Fatah juga mengungkapkan penyesalannya terhadap Kantor Polisi Nilai, Seremban, Negeri Sembilan, karena tidak membawa korban ke rumah sakit. Padahal, selama di kantor polisi, Donald sudah terluka parah.

Selain mengkritik polisi, anggota parlemen asal Kelantan itu juga mengungkapkan kekesalannya terhadap operasi yang digelar Rela (Ikatan Relawan Rakyat Malaysia) yang dianggap kebablasan. Kewenangan yang diberikan kepada petugas di bawah imigrasi tersebut bisa memicu ketegangan antara Indonesia dan Malaysia.

Mereka bisa masuk paksa ke rumah atau apartemen yang diduga dihuni orang asing. Rela juga dilengkapi dengan senjata api dan borgol. Apalagi, Rela diberi upah RM 80 (sekitar Rp 200 ribu) jika berhasil menangkap pendatang asing. Karena itu, mereka begitu mudah menangkap dan menjebloskan pendatang ke dalam tahanan.

Kemarin, salah satu koran nasional Malaysia, Berita Harian, menurunkan tulisan tentang pernyataan Menlu Syed Hamid Albar mengenai kasus Donald. Dia menuduh media jiran (Indonesia) memprovokasi masyarakat Indonesia untuk membenci rakyat Malaysia.

"Media di sana (Indonesia) seolah-olah coba membakar semangat supaya membenci rakyat Malaysia dan saya pikir hal itu merupakan perbuatan yang merugikan," ucap Albar. "Kita mempunyai hubungan diplomatik yang cukup baik dan rakyat Indonesia juga menjadikan Malaysia tempat mencari rezeki," sambungnya.

Sementara itu, kesehatan Donald Luther Kolopita semakin membaik. Wasit yang mengalami pemukulan polisi Malaysia itu kemarin diperbolehkan pulang oleh pihak Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Kepada wartawan, Donald menerangkan kesehatannya semakin membaik namun masih merasakan keluhan di beberapa bagian tubuh.

"Saya sudah sehat, namun pendengaran masih terganggu," tukas Donald yang saat meninggalkan RSPP mengenakan piyama biru, kemarin. Donald yang masuk RSPP sejak 27 Agustus silam mengaku belum menjalani visum baik oleh pihak RSPP atau saat dirinya dirawat di Malaysia. Meski mengalami cidera berat, kepada wartawan Donald mengaku tidak trauma. Sebab cidera fisik sering dialaminya sebagai karateka.(fid)

Kuda Kepang said...

Saudara Pemerhati

Jutaan maaf. Dua kiriman anda yang hanya untuk makluman sudah saya published di sini kerana kesilapan teknikal.

Salam takzim